Social Icons

Mengapa Harus Ada Partai?

BERITA REDAKSI

PANJI OPOSISI

Vol. 2/Mei 2008/Hal. 2

Mengapa Harus Ada Partai?

JUJUR kita akui pertanyaan dalam judul diatas banyak menghinggapi masyarakat saat ini, hiruk pikuk politik yang terkesan penuh dengan manuver dan trik telah memunculkan sikap cuek bebek masyarakat. Pertanyaan, Apa sih hubungan antara dunia politik dengan nasib rakyat? adalah pertanyaan yang cukup sering muncul dan wajar sifatnya, serta patut disikapi secara arif. Apalagi di sisi lain yang kontras, muncul eforia/ respons berlebihan terhadap proses politik yang semakin liberal alias terbuka saat in. Dimana-mana slogan yang muncul adalah rakyat dapat memilih langsung, atau siapapun yang mau berkuasa bisa, asalkan dapat memgang suara secara langsung ke rakyat.

Nampaknya kita perlu merefleksikan pemikiran Bung Karno tentang partai politik, dalam bukunya Dibawah Bendera Revolusi I (Mencapai Indonesia Merdeka, Gunanya Ada Partai, Hal. 280). “kita bergerak karena kesengsaraan kita, kita bergerak karena ingin hidup jang lebih lajak dan sempurna, pendek kata kita bergerak karena ingin perbaikan nasib di dalam segala bagian-bagiannya” dan “partailah jang memegang obor, partailah yang berdjalan di muka, partailah jang menjuluhi djalan jang gelap dan penuh dengan randjau-randjau itu sehingga mendjadi djalan terang”. Terang sudah apa yang di gariskan dalam pemikiran Bung Karno bahwa keberadaan partai adalah sebagai pelopor perjuangan rakyat yang diharapkan dapat mengubah nasib rakyat secara mendasar untuk lebih baik lagi. Sehingga antara, tindak tanduk partai dengan harapan rakyat harus nyambung alias jangan terputus, karena partai dengan rakyat, ibarat air dengan ikan, saling membaur dalam satu pikiran, satu hati dan satu tindakan.

Namun, mengapa masih banyak masyarakat yang mempertanyakan fungsi produktif dari partai? Partaikah yang salah? tetapi yang jelas bukan rakyat yang salah, jadinya siapa yang salah? dapat kita mulai dengan melihat dua sisi, pertama, tentang sistemnya, sedangkan yang kedua tentang pelaksanaannya termasuk budaya (cultur) nya. Dibelahan bumi manapun, pilar utama demokrasi adalah partai politik karena partai berfungsi sebagai lembaga yang mengatur kehendak banyak orang yang memiliki tujuan yang relatif sama dan mewakilinya dalam sistem ketatanegaraan. Begitupun perjuangan kemerdekaan Indonesia berawal melalui perjuangan politik di dalam wadah partai (Bung Karno, Bung Hatta, dll melalui PNI). Tetapi budaya pelaksanaanya kita akui berbeda-beda, kalau kita ingat cerita orang tua dulu, hiruk pikuk dunia perpolitikan (partai) pasca kemerdekaan penuh dengan antusiasme rakyat yang penuh idealisme, meskipun potensi benturan satu dengan yang lainnya ada, namun pendidikan politik rakyat sangat signifikan terjadi, artinya pencerdasan bangsa berjalan baik. Bayangkan saja, dengan latar belakang pendidikan kebanyakan yang relatif masih rendah tetapi keinginan mempelajari teori-teori perjuangan sangat tinggi, sering dilihat pada saat itu, pemuda yang hanya bisa baca tulis saja tetapi wawasannya cukup luas ataupun petani yang orang tua di desa cukup memahami tujuan gerakan (partai). Coba bandingkan dengan sekarang? Sangat kontras sekali, pemuda yang memiliki pendidikan sarjanapun sudah ogah ngomong tentang bangsa, nasionalisme, dll, katanya terlalu tinggi dan mengawang-awang, termasuk di dalam kehidupan partaipun masih banyak yang memahaminya secara sepotong-potong.

Tugas kita sudah barang tentu untuk menghadapi itu semua sebagai tantangan, aktivitas politik yang kita jalankan dan perjuangkan jangan hanya sekedar menjadi gagah-gagahan saja apalagi jika sudah mengisi jabatan publik, tetapi harus masuk menjadi intinya perjuangan yaitu keadilan dan kesejahteraan rakyat. Menyambung ini, Bung Karno, dalam bukunya Dibawah Bendera Revolusi I (Demokrasi Politik dengan Demokrasi Ekonomi adalah Demokrasi Sosial, Hal.583) menyatakan bahwa, “kini ia boleh memilih, kini ia boleh masuk parlemen, kini ia boleh berkehendak” tetapi sama saja “dulu ia kekurangan rezeki, kini ia masih kekurangan rezeki, dulu kawulo kini buruh”. Titik simpul pemikirannya adalah bahwa demokrasi politik harus juga demokrasi ekonomi, nah inilah perjuangan sesungguhnya partai. Ayo Berjuang !!! (dwi rio)

Tidak ada komentar :