Social Icons

PANCASILA ADALAH ALAT PERSATUAN DAN PEMBEBASAN RAKYAT



PANCASILA ADALAH ALAT PERSATUAN DAN PEMBEBASAN RAKYAT

ENAM PULUH TIGA silam, telah digagas suatu landasan perjuangan bagi rakyat Indonesia, khususnya menyongsong era Indonesia Merdeka, yaitu Pancasila sebagai ideologi perjuangan bangsa Indonesia. Bung Karno sudah sangat jelas dan tegas menempatkan Pancasila sebagai alat perjuangan menuju tatanan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Harapannya sangat besar dan cemerlang akan Indonesia Merdeka, bayangkan saja semua golongan bersatu padu untuk mengakhiri penjajahan di atas bumi pertiwi ini.

Itu adalah cerita enam puluh tiga tahun yang lampau, pertanyaannya, bagaimana dengan cerita hari ini? Kenyataan hari ini, derajat dan martabat masyarakat Indonesia jauh mengalami kemorosotan. Sebagai bangsa besar yang memiliki masa lalu yang gilang gemilang, serta memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah, tetapi kebanyakan hidup rakyat masih dibawah garis kemiskinan. Bukan saja miskin secara fisik, tetapi juga miskin secara mental, apakah penyebabnya itu semua? Sistem penjajahan yang menindas dan menghisap masih menjadi belenggu yang sulit dilepaskan oleh rakyat secara luas.

Kenaikan harga BBM sebagai akibat pencabutan subsidi BBM berdampak harga kebutuhan pokok rakyat yang meroket juga, belum lagi pelayanan dasar masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan yang semakin tak terjangkau, dekadensi moral, buruh murah, petani tak memiliki tanah, jual beli manusia, penyiksaan PRT an TKI, gizi buruk, dll, hanyalah beberapa contoh permasalahan hidup yang tak kunjung usai. Kok bisa? Ya jelas bisa, karena Indonesia sejak puluhan tahun dibawah kekuasaan rejim orde baru dan berlanjut sampai saat ini, terjebak dalam pusaran kekuatan kepentingan kapitalisme global.

Kapitalisme global memiliki kepentingan dan praktek berupa, kebebasan menempatkan kekayaan modalnya untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya, tak peduli harus mengorbankan rakyat. Negara ditempatkan hanya untuk mengamankan kepentingan modal kaum kapitalis, jika suatu negara melalui pemerintahnya tidak mau kompromi dengan kepentingan kaum kapitalis, maka pemerintahan di suatu negara tersebut harus diturunkan dengan berbagai cara, baik melalui kudeta, seperti yang dialami Bung Karno di tahun 1965-an, maupun melalui pemilu demokratis, seperti yang dialami mantan pemilu demokratis, seperti yang dialami mantan Presiden Megawati Soekarnoputri di tahun 2004.

Artinya secara mendasar, Pancasila yang digagas oleh Bung Karno pada 1 Juni 1945 dimaksudkan untuk memerdekan sepenuh-penuhnya rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan yang memiskinkan. Tetapi nyatanya rejim orde baru selama puluhan tahun hanya menjadikan Pancasila untuk tameng saja. Semua kebijakan pemerintah kala itu selalu mengatasnamakan Pancasila, termasuk kebijakan untuk memberangus kaum kritis masyarakat. Bahkan negara digadaikan pemerintah, dengan membiarkan kekayaan alam dihisap asing.

Akibatnya, saat ini Pancasila ditanggapi dingin alias cuek bebek oleh masyarakat karena kejenuhan masa lalu akibat Pancasila hanya dijadikan sekedar slogan. Persatuan tidak akan langgeng jika kesejahteraan yang berkeadilan tidak diterapkan, karenanya ini hanya bom waktu, di satu sisi orang diminta bersatu, tetapi prinsip keadilan akan distribusi hasil produksi kekayaan alamnya tidak terbagi rata, inilah masalah yang dihadapi saat ini.

Pancasila adalah Ideologi negara, sedangkan ideologi dimaknai sebagai sebuah keberpihakan, tanpa ideologi, negara akan kehilangan arah, sedangkan penyimpangan ideologi akan lebih tidak memperjelas arah perjuangan suatu negara. Perjuangan bukan dalam kata, tetapi dalam kerja. (Red)

Tidak ada komentar :