Social Icons

Tetap Tegar Dibawah Tekanan

BERITA TOKOH

PANJI OPOSISI

Vol. 2/Mei 2008/Hal. 5

Hj Megawati Soekarnoputri

Tetap Tegar Dibawah Tekanan


LAHIR di Yogyakarta, 23 Januari 1947, ditengah suasana yang tidak nyaman, hujan deras, atap rumah yang bocor, guntur menggelegar, kilat menyambar-nyambar dan tanpa listrik. Dengan proses kelahiran yang hanya diterangi oleh lampu minyak tanah. Rupanya suasana saat kelahirannya menjadi semacam pertanda untuk perjalanan hidupnya kemudian.

Terlahir dengan nama, Diah Permata Setiawati Soekarnoputri sebagai anak kedua sang Proklamator Presiden RI, Soekarno. Dikemudian hari dikenal dengan nama Megawati Soekarnoputri atau akrab dipanggil Mbak Mega oleh para sahabatnya dan Bu Mega oleh para pendukungnya.

Memulai pendidikannya, dari SD hingga SMA di Perguruan Cikini, Jakarta. Kemudian melanjutkan sekolah tingginya di Universitas Padjadjaran dan Institut Pertanian Bogor (IPB) 1965-1967 serta Universitas Indonesia (UI) 1970-1972. Untuk perjalanannya di dunia pendidikan tinggi ini, sungguh memiliki cerita menarik sekaligus ironi. Pasca lengsernya Presiden Soekarno, khususnya setelah peristiwa G30S 1965 yang penuh kontroversi, semua pengikut Bung Karno dan keluarganya mengalami penyingkiran di semua sendi kehidupan, termasuk yang dialami putri Bung Karno ini, di dunia pendidikan tinggi.

Awalnya mendaftar di 2 perguruan tinggi, yaitu Universitas Padjadjaran dan Institut Pertanian Bogor, alhasil di kedua tempat tersebut lulus alias diterima. Karena Universitas Padjadjaran melakukan pengumuman terlebih dahulu, maka di pilihlah Universitas Padjadjaran sebagai tempat kuliahnya. Sedangkan pada pengumuman berikutnya di Institut Pertanian Bogor ternyata juga lulus alias diterima, tetapi akhirnya tidak dilanjutkan. Bertepatan dengan pasca G30S 1965, mulailah mendapat tekanan-tekanan, apalagi dengan memilih untuk tetap aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Ormas Mahasiswa onderbouw PNI yang dikenal sebagai pendukung setia Bung Karno.

Akhirnya di tahun 1967, keluarlah keputusan pimpinan Universitas Padjadjaran untuk mengeluarkan Mbak Mega, sebagai mahasiswi di Universitas tersebut. Selang beberapa tahun kemudian, di tahun 1970 mendaftar di Universitas Indonesia, hasilnya lulus diterima. Tetapi lagi-lagi akibat tekanan rejim Orde Baru Soeharto, di Tahun 1972, Megawati pun dikeluarkan dari Universitas Indonesia. “Saya juga saat itu bukan tidak bisa menyelesaikan kuliah karena drop out atau tidak mampu, tetapi karena waktu itu tidak diperbolehkan untuk menyelesaikan sekolah” ujarnya.

Tidak berhenti di situ saja, ia dan keluarganya hidup dalam kondisi yang tertekan dan penuh cobaan. Saat mengandung anak kedua dari mendiang suami yang terdahulu, Lettu (Penerbang) Surindro Suprajarso. Terbetik kabar, sang suami hilang dalam kecelakaan pesawat Skyvan T-701 yang dipilotinya jatuh di Biak, Irian Jaya tahun 1970, dan beberapa waktu kemudian barulah di dapat kepastian kabar dari Angkatan Udara, bahwa Surindro suaminya, telah gugur dalam musibah jatuhnya pesawat itu. Lama kemudian, beliau menikah dengan Taufik Kiemas, seorang aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) asal Palembang.

Lika-liku itulah yang mengiringi Mbak Mega dalam mengarungi kehidupannya hingga mencapai puncak perjalanan politiknya sebagai Presiden RI tahun 2001-2004. Khususnya pada saat memulai kiprah politiknya di Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di tahun 1987. Berawal menjadi pengurus DPC PDI Jakarta Pusat, kemudian menjadi Caleg PDI 1987, Anggota DPR/MPR 1987-1992, sampai akhirnya menjadi Ketua Umum PDI 1993, diteruskan menjadi Ketua Umum DPP PDI Perjuangan 1998 sampai kini. (Red)



Tidak ada komentar :